Beralih ke KDE Plasma

Your Ads Here
   Halo! Artikel kali ini saya akan membahas tentang migrasi Desktop Environment saya dari Cinnamon ke KDE Plasma. Dan pada artikel ini saya akan me-review KDE Plasma 5. Kebetulan, versi yang saya gunakan adalah versi ke 5.12.4. Dan distro yang saya gunakan ada Arch.

Singkat cerita

Jadi, sebelumnya saya akan membahas sedikit tentang DE yang saya gunakan sebelumnya. Jadi, pada awalnya saya menggunakan MATE, ya sekitar beberapa minggu. Setelah itu saya coba ke Cinnamon dan bertahan untuk beberapa bulan.
Lalu, saya mulai bosan dan pindah ke Deepin. Tapi sayangnya, DE Deepin di Arch menurut saya banyak sekali bug nya. Mulai dari DE nya yang ke-restart setiap saya mencolokkan USB Mouse sampai ke DE yang lama me-load dan dock yang tidak muncul setelah reboot.

Saya lelah dengan Deepin yang banyak bug seperti itu meskipun di Deepin OS bug nya gak ada sih, hingga pada akhirnya saya pindah lagi ke Cinnamon. Namun, lama kelamaan saya bosan juga. Akhirnya saya mencari DE lain yang sekiranya cocok. Dan saya menemukan KDE Plasma.

Beralih ke KDE Plasma

Sebenarnya, saya sudah lama tahu KDE Plasma. Tampilannya yang cantik, fiturnya yang banyak, dan aplikasinya yang banyak membuat saya tertarik untuk mencobanya. Namun karena hal itulah yang membuat saya mikir lagi. Apakah KDE Plasma ini memakan banyak RAM ? Karena banyaknya orang yang bilang bahwa KDE Plasma ini berat. Di sisi lain, banyak juga yang bilang bahwa KDE Plasma ini ringan.

Karena penasaran, jadinya saya pasang saja KDE Plasma. Saya coba fresh install yaitu menghapus semua harddisknya lalu saya pasang KDE Plasma. Ini saya lakukan karena saya malas menghapus aplikasi yang sudah terpasang jadi langsung wipe harddisk saja.
Setelah saya pasang, ternyata diluar dugaan. Pada saat idle RAM yang terpakai hanya 500mb ( setelah booting saat idle RAM hanya terpakai 300mb). Menurut saya ini cukup ringan, karena di Cinnamon dan MATE RAM yang terpakai saat idle bisa 700mb - 900mb.
Ditambah lagi aplikasi-aplikasi KDE yang sangat berguna. Misalnya KDEnlive. Jika kalian pasang KDEnlive di DE yang lain selain KDE Plasma, kalian harus memasang banyak dependence. Jika kalian menggunakan KDE Plasma, kalian gak harus pasang dependence yang banyak itu, karena sudah terpasang di plasmanya.

Fitur yang paling saya suka adalah KDE Connect. Singkatnya, aplikasi ini berguna untuk memonitoring smartphone android kita. Kita bisa lihat status batrenya, notifikasi yang masuk, sampai ring phone jika lupa naro smartphonenya.
Screenshot diatas adalah salah satu fitur KDE Connect yaitu melihat folder apa saja yang ada di smartphone. Foldernya saya blur demi kenyamanan bersama. Oh ya, dengan KDE Plasma kita juga bisa transfer file ke smartphone dan hanya menggunakan WIFI. Yes! Kita hanya perlu terhubung ke WIFI yang sama untuk saling terhubung antara KDE Connect dengan PC kita.

Sejauh ini, saya hanya menemukan 1 bug yaitu search box yang kadang suka berkedip. Misalnya awal membuka firefox dan search sesuatu dari search barnya, kadang suka kedap-kedip warna hitam. Ntahlah, mungkin nanti ada fix nya atau karena driver GPU saya. Saya juga belum tahu. Tapi, bugnya tidak terlalu menggangu bagi saya, jadi tidak masalah.
KDE Plasma juga sepenuhnya bisa di kustomisasi. Panelnya bisa di ganti / di pindah tempat juga. Pokoknya full customize.

Libre Office juga sudah terintegrasi dengan KDE Plasma, yaitu dengan ikon Breeze. Dimana dengan ikon Breeze ini, tampilan libre office terlihat lebih modern. Jadi, dilihatnya juga lebih nyaman dibandingkan dengan tampilan bawaannya.

Sekian review singkat saya tentang KDE Plasma. Punya saran menarik tentang DE bagus lainnya? Komentar saja dibawah :D
Your Ads Here

0 Comments

Silahkan bebas berkomentar disini. Jangan nyepam link aktif, dan harap gunakan kata yang sopan.
EmoticonEmoticon